Strategi Bisnis Fore Coffee: Dari Bertahan di Tengah Pandemi Hingga Sukses Ekspansi Global

Industri Food & Beverages (F&B), khususnya sektor kopi di Indonesia, mencatatkan tren pertumbuhan yang luar biasa dalam satu dekade terakhir. Tingkat konsumsi kopi masyarakat dari berbagai kalangan usia terus melonjak, dengan proyeksi mencapai hampir lima juta karung—naik signifikan dari angka 3,5 juta karung pada tahun 2018.
Di tengah ketatnya persaingan kedai kopi lokal, Fore Coffee hadir sebagai salah satu pemain utama yang berhasil mendominasi pasar. Melalui pendekatan riset mendalam, inovasi produk, serta pemberdayaan produsen lokal, Fore Coffee tidak hanya menyajikan produk berkualitas tinggi, tetapi juga menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
Namun, di balik kesuksesan ekspansinya saat ini, terdapat perjalanan bisnis penuh tantangan yang bisa menjadi pelajaran berharga bagi para pelaku usaha di Indonesia.
Awal Mula dan Visi Bisnis (2018)
Perjalanan Fore Coffee dimulai pada 8 Agustus 2018 melalui gerai pertamanya di Senopati, Jakarta Selatan. Bisnis ini lahir dari visi besar Willson Cuaca (Co-Founder & Managing Partner East Ventures), bersama Robin Boe dan Jhoni Kusno (Co-Founder Otten Coffee), yang ingin mengangkat kejayaan biji kopi Arabika specialty asli Indonesia.
Nama “Fore” sendiri diambil dari kata Forest (hutan). Nama ini merupakan representasi dari filosofi bisnis mereka: tumbuh tinggi, cepat, dan kuat, sekaligus memberikan kehidupan bagi ekosistem di sekitarnya.
Dengan strategi go-to-market yang matang dan berfokus pada ekosistem berkelanjutan, Fore Coffee sukses berekspansi secara masif. Bersama Elisa Suteja yang bergabung pada 2019, perusahaan berhasil membuka hingga 118 gerai yang tersebar di Jakarta, Medan, Bandung, hingga Surabaya.
Badai Pandemi dan Strategi Efisiensi (2020)
Tahun 2020 menjadi ujian terberat bagi hampir seluruh sektor bisnis, tak terkecuali Fore Coffee. Pandemi COVID-19 memaksa manajemen untuk melakukan restrukturisasi keuangan dan reorganisasi secara menyeluruh.
Untuk menyelamatkan arus kas perusahaan, manajemen mengambil keputusan strategis yang berani:
Penutupan Gerai: Menutup lebih dari separuh gerainya (dari 133 menjadi hanya 60 gerai) demi menekan beban operasional (overhead cost).
Inovasi Produk Adaptif: Merespons perubahan perilaku konsumen yang harus di rumah saja dengan meluncurkan produk kopi botol 1 liter bertajuk “FOREveryone”.
Optimalisasi Digital: Memperkuat infrastruktur operasional penjualan online dan layanan pesan antar.
Pada bulan September 2020, tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada Vico Lomar, seorang eksekutif dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di industri F&B.
Titik Balik dan Pencapaian Profitabilitas (2021 - 2022)
Di bawah kepemimpinan Vico Lomar, fokus bisnis diarahkan pada keunggulan dan efisiensi operasional. Strategi ini terbukti sangat efektif.
Pada kuartal ketiga 2021, Fore Coffee mencatatkan EBITDA positif di tingkat gerai, yang salah satunya didorong oleh keberhasilan memangkas biaya promosi hingga 50%.
Tren positif ini berlanjut pada 2022, di mana perusahaan berhasil meraih EBITDA positif di tingkat perusahaan dengan total 122 gerai yang beroperasi.
Selain optimalisasi biaya, Fore Coffee terus berinovasi. Mereka meluncurkan flagship store berkonsep perpaduan tradisional dan futuristik di Yogyakarta, memperkenalkan lini makanan Fore Deli, merilis menu fenomenal Butterscotch Sea Salt Latte, hingga menggarap segmen pasar anak-anak melalui lini Fore Junior.
Ekspansi Berkelanjutan dan Inovasi Kolaboratif (2023 - 2024)
Memasuki tahun 2023, Fore Coffee membuktikan dominasinya dengan mengoperasikan 172 gerai dan sukses melakukan ekspansi internasional perdananya di Bugis Junction, Singapura. Langkah ini bukan sekadar ekspansi komersial, melainkan misi diplomasi untuk memperkenalkan budaya kopi Indonesia ke kancah global.
Guna memperkuat kredibilitas dan memenangkan kepercayaan konsumen lokal, Fore Coffee juga sukses mengantongi Sertifikasi Halal MUI pada akhir 2023 untuk seluruh lini produknya.
Inovasi tidak berhenti di situ. Pada tahun 2024, Fore Coffee mencatatkan sejarah baru di industri F&B Indonesia dengan berkolaborasi bersama brand parfum lokal, HMNS Perfume. Kolaborasi unik ini melahirkan pengalaman sensorik lewat minuman aromatik seperti Aromatic Pandan Jasmine Latte.
Pelajaran Bisnis untuk Pelaku UMKM
Hingga tahun 2024, Fore Coffee telah sukses mengelola 232 gerai di 46 kota, melipatgandakan ukurannya dibandingkan tahun 2022. Apa yang bisa dipelajari oleh para pengusaha lokal dan pelaku UMKM dari kisah ini?
Ketegasan dalam Krisis: Jangan ragu mengambil langkah efisiensi ekstrem (seperti menutup gerai yang tidak profit) jika itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan inti bisnis.
Fokus pada Profitabilitas, Bukan Bakar Uang: Mengurangi biaya promosi hingga 50% membuktikan bahwa produk yang berkualitas dan operasional yang efisien adalah kunci mencapai EBITDA positif, bukan sekadar mengandalkan diskon.
Inovasi Tanpa Henti: Selalu mencari celah pasar baru, baik itu menciptakan produk literan saat pandemi, menu khusus anak-anak, hingga kolaborasi unik lintas industri.
Keberhasilan Fore Coffee yang didukung oleh investor sekelas East Ventures ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan bisnis F&B yang memadukan operasional yang solid, riset mendalam, dan keberanian berinovasi akan mampu menciptakan skala pertumbuhan yang luar biasa di Indonesia.

![7 Usaha Online Modal 0 Rupiah Laris 2026 [Pemula]]( https://ik.imagekit.io/1hvedl4oy/usahapedia_7_usaha_online_modal_0_rupiah_laris_2026__pemula__2_e_vmLmiZr.png)




