Strategi UMKM Kopi Tembus Pasar Global: Belajar dari Ajang World of Coffee 2026 Bangkok

Usahapedia
20 Mei 2026 05:51:18
Franchise
Strategi UMKM Kopi Tembus Pasar Global: Belajar dari Ajang World of Coffee 2026 Bangkok

Industri kopi Indonesia kembali mendapatkan panggung kehormatan di kancah internasional. Pada ajang World of Coffee 2026 yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand, produk kopi Nusantara sukses mencuri perhatian para pembeli dan investor global.

Menariknya, ujung tombak ekspansi kopi Indonesia di pameran ini bukanlah perusahaan-perusahaan raksasa, melainkan 20 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan unggulan dari Bank Indonesia (BI). Kehadiran mereka di Paviliun Indonesia menjadi bukti nyata bahwa pelaku bisnis skala menengah pun memiliki daya saing tinggi untuk menembus pasar ekspor.

Di balik kemegahan pameran tersebut, terdapat kisah inspiratif dari para pelaku usaha yang merintis bisnisnya benar-benar dari nol hingga sukses melakukan penetrasi ke pasar global.

Mentoring Bisnis: "Kail" yang Lebih Berharga daripada Sekadar Modal

Banyak pelaku UMKM beranggapan bahwa kendala utama untuk naik kelas adalah masalah modal finansial. Namun, pendekatan berbeda dilakukan oleh Bank Indonesia melalui program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI). Program ini tidak hanya berfokus pada suntikan dana, melainkan inkubasi bisnis, manajemen, dan pendampingan komprehensif agar UMKM bisa mandiri dan berdaya saing internasional.

Pendekatan coaching dan pelatihan manajemen bisnis inilah yang menjadi "kail" penting bagi para pengusaha kopi lokal untuk memancing peluang di pasar global.

Studi Kasus 1: Beskabean Coffee, Dari Omzet 50 Ribu hingga Buka 14 Cabang

Salah satu kisah sukses di World of Coffee 2026 datang dari Hendra Susanto, founder Beskabean Coffee. Perjalanan bisnisnya adalah contoh sempurna dari kegigihan pengelolaan usaha jangka panjang:

  • Awal Merintis (2016): Memulai usaha seorang diri dan mengelola semuanya dari hulu ke hilir (mulai dari kebun kopi hingga roastery). Saat itu, omzet hariannya hanya berkisar Rp50.000.

  • Titik Balik (2017): Terpilih masuk ke dalam program WUBI. Di sinilah Hendra mendapatkan pendampingan manajemen bisnis yang terstruktur.

  • Skala Bisnis Saat Ini: Setelah 10 tahun konsisten membangun ekosistem bisnis, Beskabean Coffee kini telah memiliki 85 karyawan dan mengelola 14 cabang kedai kopi.

Keberhasilan Hendra menunjukkan bahwa tata kelola (governance) operasional yang baik yang didapat dari proses mentoring jauh lebih berdampak pada pertumbuhan skala bisnis (scaling up) dibandingkan sekadar pertumbuhan organik yang tidak terarah.

Studi Kasus 2: Kojal Coffee, Mengangkat Nilai Kopi Liberica Lokal

Di sisi lain, Gusti Iwan Darmawan yang membawa bendera Kojal Coffee menunjukkan strategi bisnis yang berfokus pada pemberdayaan rantai pasok (supply chain) lokal.

Memulai bisnis pada 2017 hanya berdua bersama sang istri, Gusti memilih ceruk pasar (niche) yang sangat spesifik, yaitu biji kopi Liberica asli Kalimantan Barat. Strategi bisnis yang bisa dipelajari dari Kojal Coffee meliputi:

  • Fokus pada Otentisitas Bahan Baku: Kojal Coffee menerapkan kebijakan ketat untuk hanya menggunakan biji kopi hasil panen petani Kalimantan Barat. Identitas kedaerahan inilah yang menjadi nilai jual unik (Unique Selling Proposition/USP) saat ditawarkan ke pembeli internasional.

  • Pendampingan Hulu: Sejak 2017, Gusti tidak hanya bertindak sebagai pembeli green beans, tetapi juga turun langsung memberikan pendampingan kepada para petani lokal di Kalbar agar standar kualitas biji kopi yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi ekspor.

Pelajaran Berharga bagi UMKM Indonesia

Kehadiran Beskabean dan Kojal Coffee di ajang World of Coffee 2026 di Bangkok memberikan angin segar serta pelajaran penting bagi pembaca usahapedia.biz.id:

  1. Jangan Berjalan Sendiri: Manfaatkan program-program inkubasi dari pemerintah atau institusi seperti WUBI dari Bank Indonesia. Pengetahuan tentang standardisasi ekspor dan manajemen bisnis sangat krusial.

  2. Kuasai Rantai Pasok Anda: Baik mengelolanya sendiri dari kebun (seperti Beskabean) atau membina kemitraan eksklusif dengan petani daerah (seperti Kojal Coffee), kualitas produk ekspor sangat ditentukan oleh kontrol yang kuat di sektor hulu.

  3. Proses Panjang Butuh Konsistensi: Menembus pasar global bukan pencapaian instan. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun fondasi operasional dan brand awareness yang kuat sebelum siap melangkah ke pameran internasional.